Prihatin Indonesia

Saturday, May 27, 2006

Kebodohan dan Kemiskinan Struktural : Penjajahan Masa Kini Yang Merenggut Kebebasan Masa Depan

Pada saat kita merenung melihat kondisi bangsa ini, kita bingung apa pengertian yang tepat untuk kemerdekaan saat ini. Dahulu kita mudah untuk menerjemahkan kata merdeka karena kita memiliki penjajah asing yang menguasai Indonesia. Dahulu istilah merdeka tidak susah kita artikan karena banyak bangsa-bangsa lain yang juga menginginkan hal yang sama dalam waktu yang relatif berdekatan, yaitu kebebasan dari penguasaan wilayah dan pemerintahan politik oleh bangsa asing. Sekarang apakah pengertiannya berbeda?

Kita dapat menarik benang merah bahwa tidak ada yang berbeda dari perjuangan kemerdekaan jaman dulu dan sekarang, hanya saja bentuk penjajahannya berbeda.
Bapak bangsa kita memiliki visi yang luas terhadap negara ini yaitu "Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur". Mungkin mereka tidak pernah membayangkan akan adanya internet yang memudahkan orang untuk mengakses dan bertukar informasi, tapi mereka memberi suatu tujuan negara yang tidak akan lekang di era apapun, yaitu: "memajukan kesejahteraan umum" dan "mencerdaskan kehidupan bangsa" dan "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial". Inilah yang harusnya menjadi misi dari pemimpin-pemimpin di negara ini.

Saat ini penjajahan yang terjadi pada bangsa ini adalah kebodohan struktural dan kemiskinan struktural. Kita bisa membayangkan berapa banyak rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan yang untuk makan saja sulit, apalagi untuk menyekolahkan anak-anaknya? Kita bisa bayangkan anak seorang buruh tani yang tidak lulus sekolah dasar, akan mengikuti jejak orang tuanya yang tidak lulus sekolah dasar. Anak itu akan mengalami ketidakmampuan untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik dalam memperoleh atau menciptakan pekerjaan, sehingga dia pun akan menjadi tidak berdaya seperti orang tuanya, hidup menderita dan kualitas hidupnya (kesehatan) pun sangat menyedihkan. Inilah penjajahan yang sesungguhnya kebodohan struktural yang akhirnya menyebabkan kemiskinan struktural.

Saat ini kita semua harus menyadari efek dari kebodohan struktural dan kemiskinan struktural ini bagi bangsa kita dua puluh - tiga puluh tahun ke depan. Jangan menyangkal dengan berkata bahwa toh kita masih bisa makan dan beristirahat dengan cukup saat ini, itu bukan urusan kita. Saat ini, kita masih bisa menikmati apa yang kita peroleh dengan cukup tenang, tapi bagaimana dengan generasi setelah kita, anak-anak kita?

Apa bisa kita bayangkan dua puluh - tiga puluh tahun lagi akan terjadi pandemik berbagai macam penyakit mematikan karena sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam kualitas kesehatan yang buruk? Jangankan untuk membeli vitamin C atau suplemen makanan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, untuk memenuhi pola makan empat sehat saja susah. Apa kita akan mengurung diri saja di dalam rumah kita untuk menghindari pandemik itu? Apakah kita ingin anak-anak kita memakai masker tiap hari karena adanya ancaman penyakit menular setiap harinya? Apakah kita rela anak-anak kita kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan alam dan memperoleh banyak manfaat darinya?

Apa bisa kita bayangkan dua puluh - tiga puluh tahun lagi akan terjadi tingkat kejahatan yang sangat tinggi karena banyak rakyat yang sangat lapar menjarah apa saja yang bisa dijarah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang paling dasar? Apakah kita rela terjadi hukum rimba karena ketidakmampuan rakyat berkompetisi dengan sehat membuat mereka memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan? Saat ini, potensi ke arah itu sudah mulai terlihat. Apa kita rela anak-anak kita tidak tenang untuk berangkat sekolah karena setiap saat keselamatannya terancam?

Saat ini kita semua tidak bisa (must not) untuk lepas dari tanggung jawab memberdayakan masyarakat (society) di sekitar kita. Tidak akan ada yang bisa menghalangi udara yang mereka hirup dan hembuskan mengalir ke pekarangan rumah atau tempat kerja kita. Kita tidak bisa menghindari adanya kemungkinan tindak kekerasan terjadi pada diri kita dan keluarga kita.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja untuk mengatasi kebodohan dan kemiskinan struktural seperti halnya kita tidak akan bisa meminta pemerintah untuk melarang udara yang berisi virus penyakit menular menyebar kemana-mana. Kita sendirilah yang harus (must) berusaha untuk mengurangi kebodohan dan kemiskinan struktural itu. Kita yang lebih mampu harus bisa melihat pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab kita terhadap penyediaan kehidupan yang layak bagi generasi setelah kita, anak-anak kita.
Mulailah menilik pengeluaran kita setiap bulannya. Apakah kita lebih rela mengeluarkan uang anda untuk sesuatu yang konsumtif demi memuaskan keinginan kita atau kita lebih rela menyisihkan uang tersebut untuk menjadi bapak/ibu asuh bagi anak yang tidak mampu di sekitar kita.

Mulailah kita melihat pendapatan kita setiap bulannya. Apakah ada dari pendapatan tersebut yang bersumber dari hasil korupsi yang menyebabkan rakyat kita menjadi lebih miskin? Ingat, kita mungkin menikmati hasil korupsi itu saat ini, tapi anak-anak kita akan menikmati dampak dari kebodohan dan kemiskinan struktural itu. Lagipula, apalah artinya apabila kita memiliki seluruh isi dunia ini kalau kita kehilangan ketenangan bahkan nyawa kita?

Mulailah berpikir apa yang akan terjadi pada anak-anak kita dua puluh - tiga puluh tahun lagi, pada bangsa kita Indonesia, bukan karena kita ingin (want to) tapi karena kita harus (must). Mulailah kita berpikir hal-hal apa saja yang harus kita hindari agar tidak membuat orang lain menjadi lebih bodoh dan miskin, bukan karena kita tidak ingin (don't want to) tapi karena kita tidak boleh (must not) karena masa depan anak-anak kita dan bangsa Indonesia ditentukan dari apa tindakan kita saat ini.

Thursday, May 25, 2006

Anda Adalah Orang Pilihan

Pada saat sekarang ini banyak sekali tokoh-tokoh politik dan masyarakat yang melakukan banyak hal mengatasnamakan kepentingan bangsa Indonesia. Apakah mereka benar-benar memahami "kepentingan bangsa Indonesia" atau mereka menjadikan kata tersebut sebagai tameng untuk meraih keinginan mereka sendiri? Kita tidak tahu karena itu ada dalam hati mereka masing-masing.Banyak orang yang mampu secara finansial tapi seberapa jauh sumbangsihnya terhadap pemberdayaan bangsa kita ini?

Bila kita melihat ke masa lalu, Bapak pendiri bangsa kita (our founding father) memiliki keistimewaan yang membuat mereka akan selalu dikenang. Mereka berani keluar dari "comfort zone" atau zona nyaman, untuk berjuang meraih kemerdekaan bangsa Indonesia. Saya percaya, mereka bukannya ingin menjadi (want to be) presiden, pengarang lagu kebangsaan, Jenderal, dll. agar namanya diabadikan dalam sejarah bangsa kita, tapi mereka sadar bahwa mereka HARUS MENJADI (must be) pemimpin bangsa ini karena mereka mendapatkan kesempatan yang lebih baik daripada rakyat lain dalam mengenyam pendidikan dan pembelajaran. Saya percaya, banyak sekali orang-orang lain yang mendapat kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pembelajaran yang baik di jaman Belanda, tapi sedikit sekali yang mau keluar dari zona nyamannya. Mereka takut menghadapi resiko kehilangan fasilitas dan kemudahan yang mereka terima saat itu. Mereka tidak sanggup untuk menghadapi resiko dipergunjingkan teman-temannya dan penjajah karena tampil berbeda. Mereka dan keturunannya mungkin saja kaya raya atau hidup makmur baik di Belanda maupun di Indonesia, tapi nama mereka tidak akan pernah tercatat dalam buku sejarah sebagai orang-orang yang berkontribusi pada kemerdekaan Indonesia.

Bukan suatu kebetulan kalau Wage Rudolf Supratman menjadi penulis lagu kebangsaan Indonesia Raya. Wage Supratman adalah putra dari seorang sersan KNIL. Ia mengikuti kakaknya Rukiyem yang menikah dengan opsir Belanda bernama Willem van Eldik ke Makasar. Agar memudahkan proses administrasi penerimaan siswa (pendidikan khusus orang Belanda), kakak iparnya menambahkan nama Rudolf di tengah namanya. Supratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam ELS (Europees Lagere School) selama 3 tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool. Karena keluarga kakaknya menyenangi musik, Supratman juga mulai belajar bermain biola. Kepiawaiannya bermain biola membuatnya menjadi pemain musik utama untuk mengiringi pesta-pesta Belanda di Makasar. Ia hidup berkecukupan dari profesinya sebagai pemusik namun tetap saja rasa iba dan prihatinnya terhadap penderitaannya membuatnya keluar dari zona nyaman itu.

Bila Supratman tidak keluar dari zona nyamannya sebagai pemusik yang hidup berkecukupan bahkan berlebihan, kita mungkin tidak pernah akan mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pasti banyak sekali, orang-orang yang memiliki kemampuan musik dan syair seperti Supratman, namun sedikit yang seperti WR Supratman sebagai pencinta Tanah Air-nasionalis yang lebih besar dari (dirinya sebagai) penyair-komponis. Saya percaya, WR Supratman terpanggil dan ia percaya dirinya harus menjadi seorang yang berarti bagi bangsa ini bukan untuk dirinya sendiri.

Apabila Raden Mas Soewardi Soeryaningrat tidak keluar dari zona nyamannya sebagai anggota kerajaan keraton Yogyakarta yang memiliki kesempatan untuk meraih pendidikan dan "keamanan finansial" seperti halnya keluarga keraton lainnya, pastilah kita tidak akan pernah memiliki tokoh yang visioner Ki Hajar Dewantara yang gigih berjuang untuk mencerdaskan bangsa.

Banyak lagi tokoh-tokoh Indonesia yang berani keluar dari zona nyamannya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Apa relevansinya dengan masa sekarang? Saat ini perjuangan kemerdekaan bukanlah melawan penjajahan fisik. Akan tetapi melawan kebodohan dan pembodohan dengan cara pemberdayaan masyarakat dan pengurangan kemiskinan struktural.

Apa yang dapat kita lakukan? Saat ini kita tidak bisa tidak untuk menjadi kaya dalam arti rohani dan duniawi. Kepemimpinan bukanlah suatu otoritas, tapi adalah pengaruh. Anda yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi memiliki kewajiban untuk menjadi pemimpin bangsa ini, dari ruang lingkup terkecil, yaitu pemberdayaan orang di sekitar anda.Bukan karena anda mau melakukannya, tapi anda harus melakukannya.

Anda harus berjuang untuk diri anda sendiri menjadi orang yang kaya rohani dan duniawi, bukan untuk memenuhi keinginan anda semata, tapi agar menjadi saluran berkat dan rezeki bagi orang lain. Anda harus berkomitmen memberdayakan orang lain karena anda adalah orang-orang pilihan yang mendapatkan kesempatan yang lebih baik dalam hal pendidikan dan pembelajaran. Anda harus menjadi orang yang mampu membagi lebih banyak lagi kepada orang lain karena untuk itulah anda berjuang untuk meraih lebih banyak lagi.

Apakah kita mau keluar dari zona nyaman kita saat ini? Apakah kita takut mengambil resiko untuk kehilangan apa yang kita anggap penting dan berguna bagi diri kita sendiri untuk mendapatkan hal yang lebih besar dan lebih bernilai bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Saya percaya, apabila tujuan kita untuk menjadi kaya secara rohani dan duniawi agar menjadi saluran berkat dan rezeki bagi orang lain, kita akan lebih mudah bangkit apabila di tengah-tengah perjuangan kita menemui hambatan dan tantangan, karena kita memiliki keyakinan bahwa banyak orang yang membutuhkan kita untuk berhasil karena mereka akan mendapatkan penyaluran rezeki dari kita.

Kesuksesan kita tidak diukur dari seberapa besar kekayaan yang kita kumpulkan, tapi dari seberapa besar pemberdayaan orang lain yang kita lakukan dari kekayaan dan kemampuan yang kita miliki.

Ok, Not because you want to be someone in this country, simply because you must be! You are the choosen one!






Tuesday, May 23, 2006

Prihatin Kebesaran Hati

Bangsa ini tidak punya kebesaran hati..
Sangat menyedihkan melihat rakyat di bangsa ini tidak bisa menerima perbedaan pendapat dan selalu berusaha menyelesaikan dengan cara agresi hingga sampai menggunakan cara-cara brutal untuk memaksakan pendapatnya..

Saya sedih melihat kenyataan bahwa tidak hanya di lingkungan kerja yang rentan terhadap politik kantor, akan tetapi di lingkungan sekolah, kampus, rumah, tempat ibadah semuanya menunjukkan pola yang sama dalam menyikapi perbedaan pendapat..Menyerang dan diserang..Hei, kita tidak sedang bermain sepakbola!

Contoh sederhana, di lingkungan sekolahan atau kampus..Kita seringkali mendapatkan tugas untuk membuat dan mempresentasikan suatu makalah..Tentu saat yang paling menyenangkan (bagi saya ya..bagi sebagian orang menegangkan he he) adalah sesi tanya jawab. Sangat menyedihkan menerima kenyataan bahwa pihak pemakalah berusaha mempertahankan pendapatnya mati-matian tak peduli pendapatnya benar atau tidak, sedangkan sang penanya mati-matian menyerang pemakalah dan berharap mendapatkan kredit atas upayanya itu..minimal memuaskan egonya..

Saya prihatin sekali, bagi saya setiap ada kesempatan untuk tanya jawab, itu adalah kesempatan untuk memperkaya makalah yang saya bawakan apabila saya jadi pemakalah dan kesempatan untuk memperkaya wawasan saya atas banyak hal dalam makalah tersebut yang mengalami proses sintesis dengan hal-hal yang saya anggap sebagai suatu teorema.

Saya prihatin, biasanya sang penanya sangat bangga apabila pertanyaannya memojokkan orang lain. Tidak teman, bukan itu masalahnya..Anda akan kehilangan kesempatan untuk memperkaya diri anda. Anda tidak mengijinkan otak anda untuk memproses informasi yang sudah anda miliki, siapa tahu apa yang anda ketahui salah..Anda juga tidak mengijinkan alam bawah sadar anda untuk menanamkan kerendahan hati bahwa merekapun manusia yang sama dengan anda, yang butuh pembelajaran dalam hidup ini.Percayalah, anda tidak mendapatkan apa-apa dari apa yang anda lakukan itu.

Kita siap berargumentasi dengan orang lain karena kita sudah melakukan argumentasi dengan diri kita sendiri. Sebelum kita mengajukan pertanyaan atau memberikan jawaban kepada orang lain, kita sendiri sudah mengajukan pertanyaan dan jawaban dalam diri sendiri. Kegiatan ini membuat kita waspada dan kritis, apakah yang kita ketahui sudah benar? Memang, butuh kerja lebih keras untuk membaca literatur, bertanya kesana- kemari, tapi sebanding dengan pengayaan yang akan anda dapatkan. Dengan demikian kita memiliki PENDIRIAN & PRINSIP, sesuatu yang sangat langka pada bangsa ini.

Saya prihatin, kesempatan meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia kerap kali hilang karena ketidakmampuan kita mengelola ego kita. Kita bisa lihat, jaman dahulu, kita mengorbankan demokrasi untuk kemakmuran..Sekarang kita mengorbankan kemakmuran demi democrazy eh demokrasi? Dahulu kita biasa jadi pendengar karena pemakalah tidak mau dipojokkan dengan argumentasi apapun. Sekarang kita semua jadi penanya yang tidak peduli apa yang kita tanyakan berguna bagi orang lain atau tidak, yang penting menyatakan pendapat? Dahulu kita punya satu mulut dan banyak telinga yang dipaksa untuk mendengar, sekarang sepertinya saking banyaknya mulut yang memaksa untuk didengarkan, kita semua tidak tahu yang mana yang harus kita dengar.

Jangan teman, jangan hilangkan kesempatan untuk memperkaya diri kita dan jangan mematikan hati nurani kita untuk memiliki PENDIRIAN dan PRINSIP..Jangan hilangkan kesempatan bagi diri kita untuk jadi manusia pembelajar yang memiliki kebesaran hati.





Sound of Silence (Simon & Garfunkel)

...
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing song that voices' never shared
No one dared, disturb the sound of silence
...


Bangsa yang minder dan kehilangan wibawa

Saya sangat prihatin dengan situasi bangsa ini. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanyalah orang yang mencintai bangsa Indonesia yang sedang terpuruk, yang tidak punya kepercayaan diri untuk melangkah, yang penuh rasa curiga, yang...

Saya prihatin, karena kita tidak pernah merdeka. Kita masih dijajah, bahkan bukan hanya dijajah bangsa asing, kita dijajah bangsa sendiri. Kita bahkan tidak punya rasa kebanggaan lagi terhadap tanah air kita. Mungkin apabila saat ini saya bicara nasionalisme, orang berpikir saya kuno, sok idealis dan aneh..Saya bisa terima dibilang kuno dan sok idealis, tapi kalau dibilang aneh..! Waw, apakah aneh bila mencintai bangsa sendiri?

Banyak sekali keprihatinan saya..

Keprihatinan terhadap pemimpin-pemimpin di bangsa ini yang tidak dapat dijadikan panutan
Keprihatinan terhadap pola pikir rakyat bangsa ini
Keprihatinan terhadap siapa yang berhak menentukan kebenaran di negara ini
Keprihatinan terhadap hilangnya budaya bangsa ini
Keprihatinan terhadap etos kerja rakyat bangsa ini

Bangsa ini? Ya, saya memilih kata bangsa ini, karena siapa tahu anda sudah alergi mendengar nama bangsa anda sendiri Indonesia.

Saya tidak bisa membayangkan akan jadi apa bangsa ini 30 tahun lagi..Tidak punya daya saing tapi tidak mau berusaha memperbaiki diri serta hanya bisa mengkritik dan menyalahkan orang lain dan situasi..

Mungkin anda bilang saya bermimpi, menghayal, but I am not the only one. Saya berharap suatu saat anda semua bisa merasakan impian yang sama..Impian meraih KEMERDEKAAN..



Salam



Jack Edward


Freedom (Paul Mc.Cartney)

This is my right, a right given by god
To live a free life, to live in freedom

We talkin’ about freedom
Talkin’ bout freedom
I will fight, for the right
To live in freedom

Anyone, who wants to take it away
Will have to answer, cause this is my right

We talkin’ about freedom
Talkin’ bout freedom
I will fight, for the right
To live in freedom, ah yeah, comon now...

You talkin’ about freedom
Were talkin’ bout freedom
I will fight, for the right
To live in freedom

Everybody talkin’ bout freedom
Talkin’ bout freedom
I will fight, for the right
To live in free----------dom